AMBON, TM – Aksi perusakan baliho Ramadan milik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di kawasan Jalan Ina Tuni, Karang Panjang (Karpan), Kota Ambon, menuai kecaman. Baliho yang terpasang di lokasi strategis tersebut dilaporkan dirusak oleh orang tak dikenal (OTK).
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Wilayah (Sekwil) PPP Maluku, Husein Tuharea, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan menempuh jalur hukum untuk mengusut pelaku perusakan.
“Ini bukan sekadar merusak alat peraga, tetapi sudah mencederai nilai kebersamaan di bulan suci Ramadan. Kami akan membawa persoalan ini ke jalur hukum agar ada efek jera,” tegas Tuharea, Rabu malam (18/2/2026).
Dinilai Ganggu Ketenteraman Publik
Menurut Tuharea, baliho tersebut dipasang sebagai bagian dari syiar Ramadan dan pesan moral kepada masyarakat, bukan untuk kepentingan politik atau memicu konflik.
Karena itu, aksi perusakan dinilai sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang berpotensi mengganggu ketertiban dan ketenteraman masyarakat.
Ia juga meminta aparat penegak hukum segera menindaklanjuti laporan dan mengusut siapa pun yang terlibat.
“Kami percaya aparat akan bekerja profesional. Siapa pun pelakunya harus bertanggung jawab secara hukum,” ujarnya.
Pelaku dan Bukti Telah Dikantongi
Tuharea mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi ciri-ciri pelaku, termasuk dugaan pihak yang berada di balik aksi tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, nama aktor yang diduga terlibat telah diketahui.
PPP Maluku berencana melaporkan kasus ini secara resmi ke kepolisian dengan melampirkan sejumlah bukti.
“Saksi-saksi sudah siap dan rekaman CCTV juga akan kami sertakan dalam laporan,” katanya.
Ia juga menduga perusakan tersebut memiliki keterkaitan dengan dinamika atau ketidakpuasan tertentu, meski hal itu masih akan diserahkan kepada proses hukum.
Di sisi lain, PPP Maluku mengajak masyarakat untuk tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya selama bulan Ramadan, serta tidak terpancing oleh tindakan provokatif.
PPP berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama agar ruang publik tetap menjadi ruang yang damai, santun, dan bermartabat.
“Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat toleransi dan persaudaraan,” pungkas Tuharea.(gafar bahta)
















