DOBO, TM — Warga Kecamatan Aru Utara Timur Batuley, Kabupaten Kepulauan Aru, mengeluhkan sulitnya mendapatkan minyak tanah (mitan) yang telah berlangsung selama kurang lebih enam bulan terakhir.
Kondisi ini membuat masyarakat kian tertekan, mengingat mitan masih menjadi kebutuhan utama rumah tangga di wilayah tersebut.
Tokoh masyarakat Batuley, Caesar Idol Labok, menyebutkan bahwa sejak Juli 2025, jatah minyak tanah untuk wilayah Aru Utara Timur Batuley tidak lagi disalurkan oleh pihak distributor.

“Sejak Juli 2025 sampai sekarang, mitan belum juga disalurkan. Padahal minyak tanah adalah kebutuhan mendasar masyarakat dan tidak boleh diabaikan,” ujar Caesar, Selasa (3/2/2026).
Ia menilai alasan cuaca yang kerap disampaikan pihak penyalur tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, alasan tersebut hanya dalih untuk menutupi lemahnya tanggung jawab distribusi.

“Kalau alasannya cuaca, itu tidak masuk akal. Kenapa mitan bisa lancar disalurkan di Kota Dobo, tapi desa-desa di Aru Utara Timur Batuley justru tidak kebagian,” tegasnya.
Caesar juga menduga adanya permainan harga oleh distributor. Ia menyebut, mitan subsidi seharusnya dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, bukan dijadikan alasan untuk menghentikan penyaluran ke desa-desa.
“Jangan sampai mitan sengaja tidak disalurkan ke desa karena alasan harga. Ini menyangkut kepentingan rakyat kecil,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, Caesar meminta Bupati Aru Tomatius Kaidel dan Wakil Bupati Mohammad Djumpa agar memberikan teguran keras kepada pihak distributor minyak tanah di Kepulauan Aru.
Ia bahkan menuding adanya dugaan penyalahgunaan mitan subsidi yang dialihkan untuk dijual ke pengguna lain di Kota Dobo dengan harga non-subsidi.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah warga Batuley lainnya. Mereka mengaku terpaksa menempuh jarak jauh ke desa lain, bahkan ke kecamatan berbeda, hanya untuk mendapatkan minyak tanah. Ironisnya, jika mitan tersedia, harganya justru melonjak jauh di atas HET.
“Sudah enam bulan kami kesulitan mitan. Kadang ada, kadang tidak sama sekali. Kalau ada pun harganya mahal,” keluh salah satu warga.
Warga menilai pihak distributor tidak menjalankan kewajibannya secara maksimal dan terkesan mengabaikan kepentingan masyarakat. Hingga kini, tidak ada kejelasan mengenai jadwal distribusi maupun alasan pasti kelangkaan mitan di Aru Utara Timur Batuley.
“Kami masyarakat kecil sangat bergantung pada mitan. Tapi distributor seolah tidak peduli, tidak ada penjelasan dan tidak ada solusi,” ujar warga lainnya.
Situasi ini dinilai semakin memprihatinkan karena belum terlihat langkah tegas dari instansi terkait. Warga berharap pemerintah daerah dan dinas teknis segera turun tangan mengevaluasi kinerja distributor mitan di Kepulauan Aru.
Masyarakat juga mendesak agar distribusi minyak tanah dilakukan secara merata, rutin, dan berkelanjutan, sehingga kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, mereka khawatir akan berdampak pada meningkatnya beban ekonomi dan terganggunya aktivitas sehari-hari.(Gafar)















