AMBON, TM — Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon kembali mengukuhkan enam guru besar dalam upacara yang digelar di Aula Lantai 2 Gedung Rektorat Unpatti, Poka, Ambon, Rabu (11/2/2026).
Enam akademisi yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Imanuel Berly Delvis Kapelle, S.Si., M.Si.; Prof. Wilma Latuny, S.T., M.Si., M.Phil., Ph.D.; Prof. Dr. Henry Junus Wattimanela, S.Si., M.Si.; Prof. Dr. Kalvin Karuna, M.Pd.; serta Prof. Dr. Wilma Akihary, S.Pd., M.Hum. Dengan pengukuhan tersebut, jumlah guru besar di Unpatti kini mencapai 127 orang.

Rektor Unpatti, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, mengatakan pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika. Ia menyebut, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, Unpatti telah menambah 11 guru besar yang dikukuhkan pada 29 Desember 2025 dan kini kembali mengukuhkan enam profesor baru.
“Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hari ini jumlahnya sudah 127 guru besar. Ini kebanggaan bagi kita semua,” ujar Fredy dalam sambutannya.

Menurut dia, enam guru besar yang dikukuhkan berasal dari tiga generasi berbeda, mulai dari kelahiran 1950-an hingga 1980-an. Bahkan, ada profesor yang akan memasuki masa pensiun dalam satu tahun ke depan dan ada pula yang masih berusia 43 tahun.
“Ini luar biasa. Potensi sumber daya manusia Maluku tidak perlu diragukan lagi,” katanya.
Fredy juga menyoroti kontribusi keilmuan masing-masing guru besar. Prof. Henry, misalnya, mengangkat pemikiran tentang adaptasi dan resiliensi dalam menghadapi kebencanaan sebagai respons atas tantangan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat.
Sementara itu, Prof. Berly memaparkan riset penguatan bahan alam berbasis potensi lokal seperti cengkeh dan pala. Penelitian tersebut mengkaji struktur kimia bahan alam yang berpotensi dikembangkan menjadi obat serta mendukung ketahanan pangan.
“Potensi lokal kita luar biasa. Tidak perlu jauh mencari, kita sudah punya di Unpatti,” ujar Fredy.
Di bidang linguistik, Prof. Wilma menekankan pentingnya bahasa sebagai identitas kultural sekaligus penguatan budaya lokal. Ia juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk pemerataan akses, penguatan industri lokal, dan pembangunan berkelanjutan.
Rektor juga menyebut kontribusi pemikiran mengenai pengelolaan wilayah pesisir secara terintegrasi, termasuk tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam, guna mendukung pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, terdapat gagasan tentang pentingnya kegemaran membaca sebagai fondasi penguatan daya pikir masyarakat.
“Kemampuan membaca adalah bagian dari pemberdayaan berpikir. Hanya dengan kegemaran dan kemampuan membaca, kita mengasah daya pikir untuk menjadi lebih baik,” ujar Fredy mengutip pokok pikiran pidato ilmiah para guru besar.
Ia berharap para profesor tidak berhenti pada pidato pengukuhan semata, tetapi terus menghasilkan karya inovatif yang mampu menjawab persoalan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia juga mendorong budaya kolaborasi di lingkungan perguruan tinggi.
“Fungsi kita bukan lagi kompetisi, tetapi kolaborasi. Kita yang sudah maju harus menghela yang lain untuk maju bersama menuju Indonesia Emas,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi atas bertambahnya jumlah guru besar di Unpatti.
Menurut dia, capaian tersebut menjadi modal penting dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi di Maluku dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Tidak ada murid pintar yang diajarkan oleh guru yang bodoh. Murid yang pintar pasti diajarkan oleh guru yang pintar pula,” ujar Vanath.
Ia berharap Unpatti bersama perguruan tinggi lain di Maluku, seperti IAIN Ambon, IAKN Ambon, UKIM, serta sekolah tinggi dan universitas lainnya, terus memperkuat kualitas pendidikan dan menghasilkan lebih banyak SDM unggul.
“Secara bertahap kita harus bisa memproduksi lebih banyak SDM unggul di Maluku,” katanya.
Vanath menambahkan, capaian guru besar merupakan hasil perjuangan panjang yang juga melibatkan dukungan keluarga.
Ia menyebut kehadiran pemerintah daerah dalam acara tersebut sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi akademisi dalam membangun pendidikan di Maluku. (TM-02)
















